BUKAN BAHTERA NABI NUH

Bayangkan, di antara 7 milyar manusia di bumi ini, siapa yang perduli ketika kami terombang ambing di lautan, tadinya ini adalah sebuah kapal pesiar dengan muatan penumpang lebih 2000 orang, namun kali ini bukan lagi kapal pesiar dan ini adalah sebuah bahtera berisikan 2000 orang manusia yang di tolak dimana mana....manusia manusia yang akhirnya merindukan daratan setelah berbulan bulan berada terombang ambing di lautan.
kapal pesiar yang terombang ambing tanpa pelabuhan
kapal pesiar yang terombang ambing tanpa pelabuhan yang mau menerima
Kami adalah 2000 manusia yang di tolak oleh daratan di bumi ini.

Aku, Alfredo, dan Maya ada disini, di dalam kapal ini yang di dalamnya ada hotel hotel mewah, restauran dan bahkan beberapa tempat mirip mall. Waktu itu kami tidak lagi mengingat permainan karena kami sedang melihat di layar telivisi 52 inchi dan mendapat berita dari daratan. Dari dalam bahtera ini kami segera tahu wabah corona sedang menghantui penduduk di hampir segala daratan di bumi. Alfredo yang paling banyak mengetahui dimana jadwal bahtera kami akan singgah, di negara negara tujuan seperti yang tercatat di dalam catatan tujuan wisata perjalanan.

Maya tidak pernah bosan bosannya melihat ke layar ponselnya. Beberapa kali dia datang ke bagian pelayanan meminta pulsa internasional untuk menghubungi keluarganya di Rio De Jeneiro. Kapal pesiar ini baru saja berubah menjadi bahtera nabi Nuh ketika pengumuman pemeriksaan kesehatan penumpang di umumkan, kami di periksa satu persatu ke bagian ke sehatan. Orang orang bermata sipit dan berasal dari Cina memeriksakan dirinya lebih intensif. Setiap orang menyimpan kecemasannya di dalam kepala mereka walaupun petugas kesehatan kapal selalu mencoba menenangkan kami.

Kami takut bahtera ini akan berubah menjadi bahtera hantu, dan bendera Belanda yang sedang berkibar di atas menara itu akan menjadi kumal bagai kisah filem carribean pirate. Bahtera yang menembus malam dingin di lautan tidak bernama, kami takut menjadi kisah legenda hantu yang tidak bernama karena wabah di daratan itu. Ah aku mulai membayangkan hal hal yang aneh dan menakutkan dalam hidupku.

Pada kenyataannya ketika kami mendapatkan berita bahwa setiap kami mendekati pelabuhan setiap negara yang kami singgahi sebagai tujuan wisata, kami mendapatkan penolakan dengan alasan bahtera ini adalah bahtera hantu corona. Dan pada kenyataannya mereka mengirimkan bantuan makanan , obat obatan ke dalam bahtera kami. Aku melihat Maya dan Alfredo hampir meneteskan airmata ketika mendengar seorang anak kecil bertanya kepada ibunya:

"Mama, kapan kita kembali ke Tokyo? Kapan kita bertemu kakek lagi?"
Dan wanita itu memeluk anaknya berusaha tersenyum.

Aku mendengarkan dia menyanyikan lagu dalam bahasa Jepang berlogat seperti orang Kyoto, lagu kerinduan dan harapan. Anaknya ikut bernyanyi dan melupakan pertanyaannya.

Dan aku memandang jauh daratan, padahal kami baru saja di tolak di Tokyo...aku menyesal belajar bahasa Jepang dan mendengar anak kecil itu berceloteh. Hal itu membuat hatiku menjadi perih.

Akhirnya waktu merambat di lautan dingin sisa perjalanan kami masih 14 hari lagi sebelum menghabiskan sisa pelayaran dengan bahtera ini. Tetapi semakin mendekati hari terakhir keadaan ini justeru menjadi semakin tidak pasti. Aku, Alfredo dan Maya pada masa masa ini menjadi semakin dekat. Kami bersahabat walau awalnya tidak saling mengenal. Kami berkenalan di awal awal mulai bekerja sebagai awak kapal bagian pelayanan.

Maya berkulit hitam, awalnya aku menebak asal usulnya dari Afrika selatan atau Amerika, Alfredo tampak seperti orang hispanik Amerika. Aku selalu tertarik dengan perbedaan budaya dan ras manusia.

Bagiku Maya cantik, matanya yang besar dan bening itu penuh dengan harapan dan itu memang benar, berada di dekatnya selalu membuatku ingin tahu segalanya tentang kehidupannya di kampung halamannya. Dan aku tidak terkejut ketika mengetahui dia dan Alfredo tinggal tidak berjauhan di Rio De Jeneiro Brazil. Kisah hidup orang selalu lebih menarik daripada kisah hidupku sendiri.

Dan aku tahu Maya memiliki hubungan spesial dengan Alfredo. Sebagai keturunan hispanik Amerika latin Alfredo berkulit terang, jika di banding dengan Maya yang berkulit gelap. Namun perbedaan itu tidak tampak lagi ketika dua orang telah saling mencintai. Mereka berjanji akan menikah setelah melewati masa masa sulit ini.

Saat itu maya sedang memasukan pakaiannya ke dalam mesin cuci dan aku mendekatinya. Dia tersenyum memandangi pakaian berwarna merah muda dengan renda di kedua belah lengannya.

"Ini di belikan ibuku pada waktu ulang tahunku yang ke 18" katanya. "Dan ku bawa berlayar saat aku di terima bekerja di sini"

Aku memandang pundaknya dan jongkok meneliti pakaian itu sambil tersenyum.

"Bagaimana? Kamu menyukainya?" tanyanya.

Aku mengangguk.

"Aku memperhatikan renda putih di lengannya, itu cantik mirip seperti yang di pakai oleh orang orang di negaraku" kataku memuji.

Maya tersenyum, aku melihatnya walau dia kini sedang jongkok menyampingiku.

"Terimakasih" katanya.

Hal hal kecil itu cukup membuat hari hari yang kami lalui menjadi hidup dan terasa alami lagi. Tetapi terkadang ketika aku berada di kamar Maya, aku melihat dia menangis dan sedang duduk memeluk guling. Aku mendekatinya. Dia memelukku dan berkata: "Aku rindu Rio De Jeneiro"

Aku mengangguk. Aku tidak pernah ke Rio De Jeneiro untuk melihat patung besar itu berdiri di atas gunung di pinggir danau? Aku dapat merasakan kerinduan terhadap banyak hal dan mengerti bagaimana rasanya kehilangan di masa muda kami. Jika aku bisa ke Brazil aku ingin pergi bersama Maya dan Alfredo.

Akan tetapi kembali pertanyaan pertanyaan itu terngiang di telingaku, seorang anak kecil bertanya kepada ibunya:

"Mama, kapan kita kembali ke Tokyo?"

Dan suara Maya yang terisak: "Aku rindu Rio De Jeneiro"

Atau suara Alfredo yang sedang marah: "Aku benci perjalanan ini", sambil merobek kertas mewah berisi promosi wisata ke Eropa.

MEI : AKU DARI KOTA HANTU
Akan tetapi aku lebih kasihan pada Mei. Orang tuanya berpisah dan ibunya menikah dengan pria lain di kota Wuhan dimana virus corona berasal. Dia menangis pertama kali menonton berita. Dan Dia tidak pernah lagi dapat menghubungi ibunya.

Mei berwajah oriental berusia 23 tahun cantik bagai peri dalam dongeng. Berkulit putih bersih setelah kedua orang tuanya bercerai dia ikut ayahnya menetap di Amerika dan menamatkan kuliahnya jurusan ekonomi di Harvard Amerika.

Dia menunjukan kepadaku berita kota Wuhan yang ditutup total dari dunia luar oleh pemerintah Cina. Setiap hari dunia menunggu berita kematian datang dari kota itu. Dan setiap hari kondisi memburuk, menakutkan dan tampak semakin kelam di kota itu.

"bayangkan" katanya dengan sedih. "suatu malam kawanan burung gagak menutup kota wuhan. Penduduk ketakutan karena mereka percaya burung gagak adalah pertanda buruk. Banyak orang mengira mereka sedang mencari mayat ada yang berpendapat mereka sedang memakan sisa abu mayat yang diterbangkan oleh angin dingin dari sisa kremasi mayat di kota tempat ibuku tinggal."

Pada malam yang dingin dimana bulan memucat di langit kota wuhan terkadang orang orang melihat seperti bayangan makhluk hitam besar berdiri hingga terlihat dari lorong lorong kota.

"Dan... Aku mengenal seseorang disana" sambung Mei "aku mengenalnya 2 tahun lalu, Dia bekerja sebagai arsitek muda. Cowok paling baik yang pernah ku kenal "

Sampai disana dia mengusap air mata yang hampir menetes di pipinya. Aku merengkuh bahunya berusaha memberinya kekuatan.....

Kami tetap percaya semua ini pasti akan berakhir dengan baik. Namun sebagai manusia kami memiliki banyak tekanan di dalam diri kami sendiri dan mengingat begitu banyak cerita dari daratan yang masih tertinggal di belakang kami.

Sedangkan bahtera masih terombang ambing di lautan sampai kapan? Sampai mesin berkarat, sampai malam panjang yang dingin menyelimutinya dan sampai suatu hari  nanti bendera Belanda itu menjadi kusam dan robek oleh angin menghunjam yang tajam berhembus dari waktu? Ketika itu kami mungkin telah berpindah ke dalam ke abadian menjadi legenda yang tidak pernah dapat lagi di cerna kebenarannya....

(Kisah ini di rangkai setelah membaca berita Kapal pesiar Holland America MS Westerdam yang terombang ambing di lautan karena di tolak berlabuh di mana mana. Kapal yang berisikan 2000 manusia)

SHARE YA...

Comments

  1. Sedih juga. Kebayang ada di tengah laut meski megah tapi terbatas

    ReplyDelete

Post a Comment

Ajukan pertanyaan, kami mungkin tidak bisa langsung menjawabnya. Namun pertanyaan anda mungkin berguna dan penting bagi pembaca blog ini.

Terimakasih

Salam dari Admin
Anissa Auliasari