November 02, 2019

ART OF WAR, SENI BERPERANG CINA YANG SELALU SUKSES

Art Of War
Chinese traditional book: Art of War
"Jika kalian bertemu dengan lawan (atau musuh dengan temperamen mudah tersinggung),  buatlah ia menjadi jengkel, berpura puralah menjadi lemah sampai ia menjadi sombong dan lengah" - Sun Tzu's 2000 AD.

Napoleon Bonaparte suatu hari mengunjungi cina dan entah bagaimana kesannya begitu mendalam terhadap negara yang satu ini, suatu hari dia mengatakan: Cina adalah singa yang sedang tertidur, dan suatu hari dia terbangun akan sangat menakutkan bagi dunia. Hari ini Amerika telah mengusiknya dan hari ini dia telah terbangun...

Sangat menarik untuk di cermati, terutama setelah membaca beberapa koran lokal Amerika yang cukup kredibel secara online termasuk data yang dirilis oleh OECD: OECD (Organization for Economic Cooperation and Development) telah melaporkan pada tanggal 19 yang lalu bahwa ekonomi global telah sangat melambat akibat krisis finansial, dan terutama karena eskalasi perang dagang antara Cina dan Amerika. Bahkan pada tahun tahun mendatang hal tersebut akan memperparah kerusakan yang kini telah terjadi - itu menurut Wall Street, lho. Terutama tidak mungkin tidak akan berdampak buruk terhadap Amerika.

Hal ini terutama pasti akan buruk bagi Donald Trump yang telah salah memilih lawan untuk buzzer ke pemilu presiden berikutnya, memilih lawan yang salah seperti Cina. Itu tidak seperti yang dia bayangkan sebelumnya: Perang dagang adalah perang yang paling mudah untuk di Menangkan oleh Amerika, kata Trump dalam kicauan kicauannya yang paling awal di twitter dan diluar dugaan banyak orang dia benar benar menjadikan Perang dagang dengan Cina sebagai prioritasnya. Sampai akhirnya orang orang di gedung putih mulai menyadari Cina terlalu besar untuk di remehkan. Namun terlambat sudah, perang ini terbukti sangat merugikan perekonomian Amerika, Cina dan seluruh dunia telah menanggung akibatnya.

Trump bahkan terperangkap dalam perang yang dia sendiri tidak bisa keluar daripadanya padahal dia sangat berharap perang dagang dengan Cina akan menggenjot popularitasnya pada pemilihan presiden Amerika yang akan datang.

Menurut pakar terkadang Trump lebih terlihat seperti terperangkap dalam permainan Cina yang yang rumit dan runyam, kartu permainan tarif adalah keahlian Cina bukan keahlian orang barat dan Amerika, disana seperti tidak ada jalan bagi Trump untuk keluar dari "perangkap" tirai bambu yang telah mengurungnya, demikian kata pakar. Dia hanya seperti mengantarkan Cina untuk lebih mudah melenggang kangkung ke atas panggung kekuasaan Adi Daya baru. Padahal, Trump dalam beberapa kesempatan sering berkicau di Twitter: Dia tidak akan membiarkan Cina menjadi negara Super Power.

Trump pernah mengaku bahwa dia sangat mengenal Cina, berbisnis dengan Cina dan tahu caranya menghadapi dan mengalahkan Cina. Namun bagaimana faktanya itu sekarang?

ART of The DEAL vs Art of War (Seni bersepakat versus Seni berperang)
Trump's book Art of Deal
Trump's book Art of Deal
Yang sangat menarik untuk di simak adalah gaya Trump yang "menekan dan memaksa" dalam bernegiosasi. Amerika harus menang dan Cina harus rugi dan membayar banyak. Istilahnya Trump: "Saya mendorong dengan kuat, menekan dengan kuat, menyudutkan dengan kasar lalu saya mengambil lebih banyak dari yang seharusnya mereka bayarkan. Jadi gaya tersebut terlihat sangat sederhana dan mudah dilakukan, menekan dan terus menekan, menyerang dengan tindakan dan verbal sekaligus karena posisi saya "jauh lebih tinggi" daripada mereka, katanya. Setelah itu kalian akan melihat apa yang akan saya dapatkan"

Faktanya itu semua hanya efektif untuk negara negara lemah. Bukan negara seukuran raksasa dalam segala hal seperti CINA. Alih alih menakutkan Trump malah terlihat seperti anak kecil dihadapan Jin Ping seorang lelaki dewasa yang kuat. Cina memiliki tradisi dan seni berperang yang telah berusia ribuan tahun, jauh sebelum negara Amerika dilahirkan atau muncul ke dunia ini. Sebelumnya mereka mungkin terlihat miskin dan lemah tetapi kini jauh berbeda.

Cina secara massive telah menggelontorkan uang pinjaman terhadap 170 negara di dunia, dan ini membuatnya semakin pasti meninggalkan Amerika. Membuat mereka berpontensi membeli sekutu sekutu untuk keperluan strategis mereka baik secara ekonomi maupun kepentingan basis militer secara global. Cina sedang membangun one belt semacam ikatan ekonomi global untuk menyaingi dominasi Amrika. Dan jika itu berhasil Amerika tentu tidak akan seperti sekarang lagi: Seenaknya mengembergo negara lain apabila tidak sejalan atau mengganggu misi dan visinya sebagai satu satunya negara adi daya.

Trump sepertinya sudah terlambat menyadari hal tersebut. Di Amerika sendiri Trump memiliki pendukung dari kalangan Republik, tapi tidak dari kalangan Demokrat yang sangat ingin "mengimpeach" dia. Efek perang dagang mulai berbalik lebih banyak menyakiti dan melukai Donald Trump, walaupun dia masih garang berkicau di Twitter.

Sangat menarik apa yang dikatakan oleh Dennis P. Halpin:

The relevant text for the U.S.-China trade war may not be Trump’s “The Art of the Deal” but instead Chinese General Sun Tzu’s two thousand year-old classic “The Art of War.” Sun Tzu famously noted that “If your opponent is of choleric temper, seek to irritate him. Pretend to be weak, that he may grow arrogant.”

Istilah yang paling tepat untuk menilai perang dagang antara Amerika dan Cina bukanlah istilah "Art of the Deal" (Seni kesepakatan) milik Donald Trump, akan tetapi istilah milik Jendral Cina Sun Tzu dua ribu tahun lalu "The Art of War" (Seni berperang) ucapan Sun Tzu yang sangat terkenal adalah: "Jika lawanmu memiliki temparemen mudah tersinggung, cari cara untuk membuatnya menjadi sangat jengkel, berpura puralah kamu menjadi lemah, biarkan dia menjadi sombong dan lengah"

Mungkin ini adalah takdir: Negara Asia ini akan menjadi sebuah negara Adi Daya yang akan menggantikan Amerika, lebih karena kecerobohan Donald Trump yang secara tidak sengaja pada akhirnya telah "diperalat" oleh Cina.

Diperalat dalam artian khusus: Karena kekeliruan strategi Trump dalam bermain kartu tarif, dia lebih banyak menyakiti dunia dan kehilangan lebih banyak simpati dari sekutu sekutu tradisionalnya di Eropa. Sementara Cina diam diam terus menggelontorkan pinjaman dan bungkam seribu bahasa pada saat negara negara barat menyerangnya dengan istilah "pinjaman uang beracun". Kita melihat pengakuan kontras Cina yang secara resmi mengaku ekonominya telah melemah akibat diterpa perang dagang, sementara di sisi lain mereka terus meningkatkan anggaran militer dan pertahanan, plus memberikan pinjaman dan bantuan keuangan kepada negara negara asing dalam jumlah yang lebih banyak. Mereka secara konsisten telah menerapkan "Art of War" dan mulai melibas ekonomi Amerika perlahan lahan dan pasti.

TRUMP YANG IMPULSIF
Dalam suatu kesempatan Trump ngetweet dan bahkan pada kesempatan lain dihadapan wartawan orang nomor satu di Gedung Putih itu memberikan statemen: Pihak Cina telah menelponnya dan sepakat dengan dealnya Trump.

Mendapatkan berita bagus,  Wall Street terdongkrak naik, para investor sejenak merasa lega. Namun pada saat di konfimasi ke Pihak Cina, kementerian luar negeri Tirai Bambu menyatakan hal yang sebenarnya dan kebingungan mereka terhadap pernyataan Trump tersebut.

Mereka mengatakan ada beberapa pembicaraan tingkat rendah namun mereka menegaskan tidak pernah menelpon Trump dan kebingungan atas pernyataan sang presiden.

Karuan saja klarisifikasi dari pihak Cina itu kembali membuat saham dunia tersungkur dan terhempas dan menjadi babak belur.

Pada kesempatan terbaru dunia juga mengikuti deal perang dagang yang akan berlangsung di Chili yang di gadang gadang Trump sebagai sebuah kemajuan, namun ternyata Cina batal menandatanginya. Pihak Cina mengatakan mereka pesimis.

Dalam beberapa hal sifat impulsif Trump sering sekali terlihat menjadi penyebab berakhirnya suatu hal yang diharapkan oleh dunia - dan menjadikannya berantakan.

Dunia mulai apatis dengan inkonsistensi Trump dalam bersikap terhadap drama perang dagang yang sedang berlangsung. Dunia ingin mempercayai Cina namun apa daya,  Amerika masih memegang kartu turf ekonomi yang lebih kuat...tetap masih yang nomor satu, paling tidak hingga saat ini.

www.editblogtema.net

A coding addict, a hard smoker, love boxing even not a boxer. Love maths even not a scientist

8 comments:

  1. Cina semakin hebat dan kuat.
    cina semakin royal memberikan bantuan ke berbagai negara.
    Sedangkan amrik, tampak pelit.

    ReplyDelete
  2. Cina ekonominya melemah? sementara rajin banget pinjamin ke negara lain salah satunya Indonesia, kadang pengen berharap yang jahat-jahat.
    Misalnya kemakan rentenirnya sendiri biar kualat.

    Dan pemerintah kita berhenti memakan riba, huhuhu.
    *ah sudahlah, saya kok sensi kalau ingat hal beginian hahahaha

    ReplyDelete
  3. Good for China, Trump is spineless :(

    ReplyDelete
  4. Dan sekarang mr Trump sedang dalam ancaman pemakzulan. Gak abis pikir juga yah bisa memang pilpres us dianya

    ReplyDelete
  5. We MUST get rid of Trump. He is such an embarrassment.

    ReplyDelete
  6. Tanpa sadar mamang udah bahkan sering mempraktekkan teori perangnya rajanya raja, intinya inti pakar strategi perangnya sun tzu ...
    Maaf kan saya...

    ReplyDelete